Minggu, 11 Februari 2018

Nyiga Gogola

to waje ngana no ari afa
to tagi nena to firi uwa
ngori nena to hodu uwa
ri ngongano no sabar ni nyinga

pada pelayaran yang tak pernah sampai ini
ombak terakhir telah mengirimkan kematian sebuah ingin
jauh ke tanjung badai tanpa nyanyian camar
rindu yang terlepas bagai fragmen kematian
untuk aku dan sepi yang melepas ikatan di ujung dermaga

di futu lobi sari to tagi
to tagi nena mai roro uwa
to tagi nena gasa ngori na cinta
afala no ngitu ngori to sidika

dan ingatan yang kembali bagai reportase kematian
yang gagal menuntunmu pulang tersebab karam
senja itu, langit rebah di matamu yang gerhana
karena pergi tanpa ditanya ke alamat mana
kelopak mawar yang dulu merindu engkau tanam

afa la no ari
afa la no duka

di ruang kosong, kau  ingin baca lagi catatan perpisahan
sambil meminta waktu untuk tinggal sejenak lebih lama

ri gate nena gogola
ri badang nena to baso sengsara
lebe laha to tagi bato
to tagi nena sou ri nyinga gogola

usah menangis. usahlah berduka
sebab ciuman dari bibirmu sedingin kematian
bagai belati engkau tikam berulang
dengan rasa sakit yang tak berhenti menyesaki dada


            Ternate, 05 Februari 2018



Kamis, 26 Oktober 2017

Ruang Tunggu Stasiun Penghabisan



adakah yang bisa menghentikan hujan
ketika seekor kupu-kupu menyalibkan puisi
di rumah yang tak pernah ada
ketika aku menunggu isyarat
berbagi jalan menuju tuhan?
:selalu ibu

di sudut stasiun
tiga perempuan membawa tuhan
pulang ke rumah ibu setelah hujan
yang datang tak ada batasnya
dan aku ingin menjadi rerumpuan
                                                :tibalah waktuku

kidung sungai larangan
bagai langkah jarum jam sebuah arloji tua
yang merapal doa ke seribu hari pada sajadah batu
doa-doa bawah sadar juga tasbih bumi
ketika rindu tak pernah memilih waktu
:cukuplah air mata itu

di ruang tunggu stasiun waktu
sebuah keranda tua menunggu ibuku
untuk dibawa ke laut bersama hujan
dan secangkir bayang-bayang
pada satu baris puisi di pusara sajakmu
:aku fana

            Ciputat, 27 Oktober 2017



 
*puisi ini merupakan gabungan sejumlah judul puisi buku antologi penyair Munsi





Kangela



engkau tahu halimah
di sini musim tak lagi muda
meski bulan selalu saja berganti nama

rurehe telah lama kehilangan semang
arumbae patah dayungnya
dilibas angin pakal
yang datang dari batavia

dan laut. ah jangan kau tanya lagi
entah pada musim apa nanti
berhenti ia mengombak

cerita-cerita lama
luka-luka menganga
tiada lekang dimakan cuaca
menubuh ia pada karang
dengan segala siksa

dan kau tahu halimah
sapu tangan yang dulu itu
tiada lagi bersulam namamu
merapuh kini di ujung waktu

warna biru itu telah pudar jadi kelabu
seperti awan yang menggantung di sore itu

burung-burung memilih pergi
hutan-hutan telah lama mati
dirampas para cukong
yang datang dari restu batavia

dan aku. tiada perlu kau tanya lagi
tiada berkalang sebelum tumbang
bila musim telah penghabisan

            Ciputat, 26 Oktober 2017





Rabu, 25 Oktober 2017

Pada Satu Musim Sebelum Pancaroba



jauh sebelum musim mengirimkan tanda pancaroba
aku telah lama mengukir namamu  di kain layar
merajutnya dari benang terbaik dengan segala doa
biar jika nanti melaut lagi, akan terasa kau selalu bersamaku
menempuh pelayaran di haru-biru  mimpi
di biru-biru hari, masa depan sehidup-semati

jauh sebelum musim mengirimkan tanda pancaroba
aku telah lama mengikat namamu di badan perahu
merapalnya sebagai temali doa dengan segala puja
biar jika nanti melaut lagi, tiada lepas ikatan cinta
seperti janji di pagi itu ketika pertama kita berjumpa
begitu lembut gelombang rindu. langit pun biru

jauh sebelum musim mengirimkan tanda pancaroba
aku telah lama menulis namamu di badan perahu
mengukirnya dari huruf  terbaik dengan segala tabu
biar jika nanti melaut lagi, tiada pudar segala deru
seperti laut di kampungku yang selalu biru
menghampar luas kemana pun pandang menuju

cinta yang lama bersemayam di kalbu
bunga asmara pertanda merindu

            Ciputat, 25 Oktober 2017






Jumat, 06 Oktober 2017

Kepada Nelayan Tak Bernama



tanganku mengangkat tinggi tujuh ekor ikan, hasil tangkapan
dari laut yang sama. dimana moyang-moyangku dahulu berperang
setiap ikan memiliki warnanya sendiri
seperti juga nasib para nelayan di kampungku
yang sejak dahulu telah melaut tak takut maut

aku membayangkan wajah lembut anak istri nelayan tua itu
saat menjemput suami dan ayah mereka pulang saban pagi
ketika perahu merapat di bibir pantai
dengan cinta yang menggulung bagai ombak
tujuh ekor ikan dibawa pulang sebagai bekal dan harapan
hari ini putri tertuanya harus membayar uang sekolah
yang tertunda beberapa bulan kerena musim baru saja pancaroba
dan nelayan tua dengan gigil di pundak itu baru bisa melaut lagi

dua kakiku terbenam di pasir pantai yang basah
aku mendengar gemeretak tulang yang patah
di semang perahu dan rusuk nelayan tua itu
dalam sepoi angin pagi yang terlalu dini meniupkan pilu
tujuh ekor ikan tidak cukup harganya untuk uang sekolah
putri tercinta. hanya cukup buat makan hari ini
sebatang rokok dan secangkir kopi. dengan sedikit gula

mengangkat tujuh ekor ikan di pantai pagi ini
aku menghitung jumlah perih dari setiap hentakan dayung
yang membuat nelayan itu lebih tua dari umurnya
punggungnya beradu tangkas dengan arus dan angin laut
tetapi nasib tak selalu baik seperti pagi yang miris ini

tujuh ekor ikan tak cukup makan buat sehari
dan malam nanti. nelayan tua itu harus melaut lagi
demi harapan yang tak boleh mati

                     Ciputat, 6 Oktober 2017