Minggu, 22 Januari 2017

Tak Pernah Satu



sebagai lelaki yang khatam segala musim
telah kurenangi seluruh permukaan tubuhmu
dengan semua rasa yang paling tulus. paling kudus
telah pula kuselami seluruh kedalaman cerukmu
sepenuh cinta. bagai deru angin senja datang bertalu

aku hafal betul setiap lekuk dan letak gunung
di ketubiran leguhmu yang menawarkan mabuk
di musim teduh maupun gemuruh yang melenakan hidup
tetapi sungguh seluruhmu itu tak hanya aku. selalu begitu

di telukmu yang tak lagi ranum
begitu banyak berkerumun para penyamun
yang kau undang sepenuh mesum
demi erang. uang dan nafsu yang kau sebut rindu

dari ujung ke ujung negeri kau tautkan jari-jemari
bahkan kepada mereka yang datang dari atas angin
sungguh erangmu begitu menderu. selaksa hantu
leguhmu itu tak pernah satu. sejak dahulu

sebagai lelaki yang hafal gelagatmu
bagai nelayan yang khatam membaca angin
aku hanya bisa melepas sauh dan berlayar menjauh
sebab di telukmu dusta dan khianat bersekutu sepenuh tubuh
dalam erangan yang kian layu tanpa kenal waktu

                        Morotai, 20  Januari 2017

Asam di Gunung, Garam di Laut Setitik Nila Membunuh Kita


selalu aku meninggikanmu
di titik teratas cahaya hatiku
walau padamu, aku hanya bayangan bisu
yang selalu ingin kau hapus sedari dahulu

selalu aku membawamu utuh
ke titik terdalam sunyi doaku
walau padamu aku hanya bayangan semu
yang selalu ingin kau hapus bagai debu

dan kini, di bawah temaram cahaya rembulan
tiada sesiapa berbagi luka di atas bahtera
sebab di pantai, putih airmata telah lama menjelma garam
sedang engkau bergegas ke gunung memburu asam
di dalam belanga hanya tersisa setitik nila membunuh kita

            Morotai, 19 Januari 2017



           

Ternate Tujuh Belas Januari



malam ini tujuh belas januari hujan tak jua henti
gelap ini. kusadari aku kini sendiri. menunggu mati
dingin angin lautan hembuskan gigil tiada terperi
terasa waktu seakan berhenti sejak engkau memilih pergi

malam ini tujuh belas januari. hati ingin kau mesrai
gelap ini. kata hati tak jua terpenuhi
o.. lelahnya diri. ingin kuucap sejuta maki
terasa hidup tak lagi berarti. sebab engkau tak jua kembali

malam ini tujuh belas januari. diri ini terasa mati
gelap ini. di tepi pantai aku menangis. nasib yang miris
tanpa dirimu ada di sisi. aku pantai kehilangan pasir
terasa umur telah sampai ke ujung tubir. aku ikan kehilangan air

malam ini tujuh belas januari. sembilan bulan engkau pergi
gelap ini. menusuk duri ke ruang hati
aku lelaki yang hilang istri di busur nasib yang kini sepi
entah kapan engkau kembali. ingin kubawa rapat ke hati
biar waktu tak lagi berduri. demi engkau dan si buah hati

                        *17-01-17




Kamis, 12 Januari 2017

Taman Terakhir Yang Alpa Kau Tuju



setelah sekian waktu terlewati dalam pertautan kita
yang menumbuhkan hasrat meninggikan harap
engkau masih saja mengirim keruh ke mataku
mengirimkan gemuruh pilu ke ruang dadaku
meski engkau tahu. aku tak lagi setabah pantai
                                                         seteguh karang

pada masa dimana usia seumpama kursi terbalik ini
segala yang ada telah menua terkikis umur merapat ke kubur
tetapi luka tiada henti engkau toreh
serupa ombak berulang-ulang mengoyak pantai
meski musim tiada membadai tiada taufan
tak henti jua kau cipta beliung di muara sungai

lalu seorang perempuan menulis puisi
tentang januari yang telah pergi
barangkali dari mimpi. bisa juga dari hati
engkau bergegas ke barat menerabas hasrat
ke lubuk tawar bernama maninjau
meski kau tahu tiada garam di pegunungan
lalu lupa alamat pulang
taman terakhir tak lagi kau tuju

                        Ternate, 13 Januari 2017





Rabu, 11 Januari 2017

Terlampau Ombak




kalau kau tibakan duka
jangan lagi di atas dermaga
cukup sudah derita ku depa
laut yang garam. asmara yang karam
layar siapa hendak kau bentang?

kalau kau tibakan derita
jangan lagi ke alamat semula
cukup sudah duka ku hela
nafas yang luka. dusta yang purba
perahu mana hendak kau tumpang?

kalau kau tibakan dusta
jangan lagi berharap dermaga
cukup sudah percaya ku tempa
musim yang alpa. waktu yang lena
gairah tubuhmu terlampau mengombak

            Ternate, 12 Januari 2017


Kamis, 05 Januari 2017

Sebab Engkau Semakin Gila Mengendarai Ombak



di laut tubuhmu segala kisah telah menjelma remah-remah
menjelma buih-buih dari segala warna ginju yang hanyut
di segala jenis bibir kian kemari tiada alamat berhenti mencari
entah dari sisi mana semua wajah laut kau sepuh cerita palsu

di laut tubuhmu segalanya tak lagi menjadi asin
sejak peluh berganti-ganti kau tuai hingga payau seluruh rasa
tiada tersisa alamat dimana sampanku akan berlabuh

setelah sekian senja kau larikan ke rupa-rupa tubuh
tanpa pernah kau kenalkan sebagai kenang selain tualang

di laut tubuhmu airmata tak lagi menjelma garam
lekuk tubuhmu menjelma ombak dan khianat
bagai musim pancaroba yang menjauhkan jarak

antara siang dan malam, terang dan gelap
mimpi kita adalah keseluruhan bayang-bayang

di laut tubuhmu segala kesetiaan tak lagi berwarna biru
meski beribu cerita pernah kita daratkan di banyak pulau
juga di ruas dadamu yang menawarkan banyak sengketa
sebab engkau semakin gila mengendarai ombak

Ternate, 06 Januari 2017 `