Minggu, 19 Juni 2016

Kemiskinan dalam Kekayaan



”Keinginan Adalah Sumber Penderitaan.” – Seperti Matahari, (Iwan Fals).

Mungkin sudah lumrah sebagian kita memandang bahwa harta benda merupakan alat untuk mengukuhkan identitas sosial yang sangat penting dalam kehidupan. Kekayaan harta bendawi telah menjadi tolok ukur kebahagiaan, kepuasan, dan kenikmatan hidup.

Secara kasat mata, harta benda memang telah mencukupi hidup dan kepuasan kita, namun apakah semua harta benda itu “benar-benar” mencukupi hidup kita? Atau jangan-jangan semua itu hanya kepuasan semu? Masihkah ada yang ingin kita capai? Karena terkadang kita tidak pernah merasa cukup dengan semua itu, kita terus saja menumpuk harta kekayaan, mengejar ambisi jabatan, status sosial, dan lain sebagainya. Sebenarnya apa yang kita cari?

Ambisi dan keinginan benar-benar telah membutakan kita. Tidak sedikit dari kita yang ketika kesulitan dan kesengsaraan melanda hidup, kita berusaha memohon mati-matian kepada Allah untuk keluar dari kesulitan tersebut, namun ketika Tuhan melimpahkan rezekinya, kita kemudian berpaling dari-Nya, kita seakan menjadi orang yang tidak sadar karena dimabuk harta yang berlimpah. Bukankah itu berarti kita telah berlaku curang? Sungguh kerdil dan tamaknya manusia.

Allah SWT ”menyindir” mereka sebagai “orang-orang yang tidak sadar” yaitu orang-orang yang menjadikan harta benda sebagai tolok ukur kekayaannya. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. Al-Mukminun: 55-56).

Mengapa kita begitu tamak dan tidak pernah merasa puas? Mengapa kita tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang telah kita miliki?  Mari kita merenung sejenak dan tanyakan semuanya itu kepada hati kita. Apakah kita sudah mengenalnya? Apakah kita pernah “berdialog” dengannya? Apakah kita sudah merawatnya seperti kita merawat harta benda duniawi kita?.

Hati harus dipahami, karena hati adalah alat yang dapat kita gunakan untuk mengkonter nafsu keinginan kita. Dengan memahami hati, kita akan memiliki “rem” untuk membatasi keinginan, nafsu, ambisi yang terkadang membutakan mata kita. Keinginan selalu terbawa dalam mimpi kita, membuat kita mencari bagaimana caranya mewujudkan keinginan itu dengan cara apa pun, dan tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menjadi budak ambisi yang sampai kapan pun tak kan pernah usai.

Keinginan akan terus membuat kita menjadi makhluk yang tak pernah merasa puas berambisi, penuh kegelisahan, dan hidup menjadi tidak tenang, bahkan tanpa sadar melupakan Allah SWT. Keinginan yang belum atau tidak tercapai akan menekan batin kita, ujungnya stres berat, jalan pintas lalu menjadi pilihan. Mencuri, menipu, merampok, membunuh, korupsi, dan lain sebagainya.

Orang-orang yang terus melayani nafsunya, meskipun hidup dalam gelimang kemewahan dan kekayaan, sejatinya mereka tidak selalu merasakan bahagia. Mereka yang masih tetap merasa kekurangan adalah orang-orang yang kaya dalam kemiskinan, karena tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang mereka miliki.

Maka, berlindunglah kepada Allah SWT dari semua itu, mari sapa hati kita, batasilah keinginan kita, bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang ini, niscaya kita akan menjadi orang yang bijak dalam menggunakan rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Cobalah menerapkan hidup sederhana dan selalu merasa cukup (kanaah), jangan berlebih-lebihan, sebab Allah SWT tidak suka orang yang berlebih-lebihan.

Kekayaan bukanlah banyaknya harta, bukan kemewahan, atau menumpuknya uang. Tapi kekayaan itu terletak di dalam hati yang selalu dirawat dan dijaga. Seseorang yang berusaha ikhlas dan merasa cukup atas apa yang dimilikinya, maka sesungguhnya dialah orang yang kaya walaupun ia hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan.

Sesungguhnya kekayaan itu bukanlah terletak pada banyaknya keluasan dan kelebihan. Hakikat dari kekayaan sesungguhnya adalah kayanya hati (jiwa).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sekali lagi, kekayaan hati akan membatasi ambisi dan keinginan-keinginan yang membuat kita menderita, jauh dari cinta, dan bahkan menjauhkan kita dari Allah SWT. Memang betul adanya, bahwa keinginan adalah sumber penderitaan, seperti kata Iwan Fals.

Jadi, silakan pilih: Hidup bermewah-mewahan punya segalanya tapi sengsara, atau hidup sederhana, nggak punya apa-apa tapi banyak cinta. Begitu kata Slank. (*)





Selasa, 14 Juni 2016

Ternate Ridoka Susira Uwa



Siapakah kita dahulu, siapakah kita sekarang dan siapakah kita di masa depan? Setiap manusia, kapan dan di mana pun, yang menghayati hidup secara sungguh-sungguh akan mendapatkan dirinya berhadapan muka dengan masalah-masalah tersebut. 


Dengan membaca sejarah secara tenang dan arif tanpa dibebani prasangka dan kepentingan, pada akhirnya akan mengantarkan kita terbangun, semacam rasa kagetnya Archimedes karena penemuannya, lantas meloncat, berlari, dan berteriak: eureka! Aku telah menemukannya!

Penyair dan politikus Romawi Cicero (Marcus Tullius) yang hidup pada 106-43 Sebelum Masehi berseru “Historia vitae magistra”, sejarah adalah guru kehidupan. Kemudian kaum Yunani berkata “Historia panta rei”, sejarah selalu mengalir selalu berulang.

Bahkan Al-Qur’an menyatakan dengan jelas dan tegas: wa la taqulu li maiyuqtalu fi sabilillah amwat bal ahya, dan janganlah kamu katakan bahwa yang lalu itu mati melainkan tetap hidup (Al Baqarah:154), juga wal tandhur nafsun ma qaddamat lighad, hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Al Hasyir:18).

*

Jika kita telusuri dari berbagai literatur sejarah, dapat diketahui bahwa Ternate mulai ramai di awal abad ke-13. Penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat empat (4) kampung yang masing - masing dikepalai oleh seorang "Momole" (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktivitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa "Momole Guna" pemimpin "Tobona" diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.

Tahun 1257, Momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Sejarawan Adnan Amal menyebut, nama Maluku sebenarnya diperuntukkan khusus oleh bangsa eropa ketika pertama kali menemukan daerah kaya ini awal abad 15. Orang Portugis bilang ‘ilhas de maluco que tem cravo’ atau kepulauan Maluku penghasil rempah rempah.  Jauh sebelumnya, sekitar abad ke 10, para saudagar arab yang berdagang menyebut kawasan ini dengan "jazirah tul muluk, negeri para sultan". Dan Ternate adalah pusat pemerintahan dan aktifitas sosial ekonomi yang mapan dalam sebuah struktur negara modern yang demokratis dan terbuka. Dalam catatan F.S.A de ciercq, de bijdragen tot de kennis der residentie Ternate (Leiden, 1890) disebut bahwa sejak abad ke-7 di Ternate telah ada pemukiman jawa, melayu, arab, cina dll.

Waktu berjalan, abad pun berganti demikian juga peran Ternate. Setelah berjaya sebagai salah satu kesultanan paling berpengaruh di kawasan timur nusantara, Ternate lantas turun kasta  bahkan hingga hanya menjadi kecamatan kota praja pada awal Republik Indonesia berdiri. Dan baru pada era reformasi pemerintahan dan hukum di Indonesia, status Ternate ditingkatkan menjadi kota otonom.   

**
Historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan, karena sejarah adalah hakim yang adil dan membuat manusia menjadi lebih arif. Untuk itu hanya manusia yang ariflah yang mau menghargai dan mempelajari sejarah. Karena sejarah sendiri adalah sumur dari sumber mata air kearifan. Tanpa sejarah manusia dengan sendirinya akan kehilangan kearifannya karena akan mengalami dis-eksistensi diri.

Begitu pula jika berbicara tentang Ternate. Jika dulu dikenal sebagai salah satu emas dari tiga emas dari timur (the three golden from the east), maka kini Ternate tak lebih hanyalah sebuah noktah di ujung timur nusantara  yang tak lagi kelihatan dalam peta Indonesia apalagi peta dunia.

Ternate kontemporer memiliki potret diri yang tak lagi emas. Banyak orang Ternate termasuk generasi mudanya telah mengalami keterputusan yang panjang (major – discontinuity) dalam lingkup historis maupun kultural. Diantaranya ada yang terperangkap konflik tradisional secara struktural, sehingga soal kultural bergeser menjadi soal periferal semata.

Tendensi politik (struktur) yang terlalu kental karena politik masih menjadi panglima di republik ini. Ataukah sisa – sisa konflik masa lalu peninggalan imperialisme abad pertengahan masih melekat kuat sebagai warisan yang tidak kita sadari telah memperburuk potret diri karena ketidaksadaran kita akan fungsi sejarah sebagai sumber kearifan lokal.

Meski demikian,  jika kita percaya pada John Naisbitt yang  mengatakan  bahwa salah satu trend abad 21 adalah akan bangkitnya era seni serta orientasi dunia yang bergeser ke Pasifik, maka fenomena kultural ini dapat kita manfaatkan dengan tambahan substansi tentu saja untuk membangunkan Ternate dari tidur panjangnya.

Ternate yang termasuk kawasan ring of pacific secara fisik akan bersentuhan secara geografis pertama kali dengan kawasan Pasifik yang menjadi kancah pergelutan dan aktivitas global abad 21. Hal mana menuntut kita untuk berpikir ekstra lebih keras. Karena dalam era pacifik baru ini sektarian adalah sikap yang ketinggalan jaman. Era pasifik baru menuntut kita agar berwawasan intergratif sebagai conditio sine quo non. Jadi bila dimensi-dimensi ini kita abaikan, maka Ternate hanya akan menjadi back yard of the country (halaman belakang negeri nusantara).

Oleh karena itu, kita harus berani membongkar sejarah, menelusuri jejak masa lalu, menafsirkannya secara baru dan cerdas, menemukan keinsafan/kebenaran baru dan mencipta sejarah Ternate masa kini dan masa depan yang lebih emas.

Kita harus mengambil sikap bagai Jose Arcadia Buendia, tokoh dalam novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, yang memandang masa lalu dan masa kini sebagai kenyataan yang tak terberi begitu saja dan membongkar habis fase-fase sejarah untuk menemukan kembali diri sendiri yang sesungguhnya, yang sejati.

***

Live is to interpret, hidup adalah menafsir, kata filsuf Heidegger. Maka mari kita memberi tafsir baru pada sejarah yang layak dipertahankan dan dikembangkan pada hari ini menuju masa depan kebudayaan Ternate dengan meletakkan ke-Islaman sebagai esensi, sehingga masa lalu dan masa kini tidak berbenturan dan akan menjadi masalah di masa depan.-

*Diolah dari berbagai sumber



Minggu, 12 Juni 2016

PUASA



“Hai orang-orang yang beriman. Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS.al-Baqarah:183)


Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya, semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena mengharapkan ridho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada-Nya.

Ayat puasa sebagaimana saya kutip diatas, dimulai dengan firman Allah: ”Hai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan:” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.”Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.

Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa, Allah SWT member kita kesempatan selama bulan Ramadhan untuk melatih diri. Menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, melakukan hubungan suami-istri disiang hari, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong, fitnah dan tipu daya, dengki dan khianat dan berbagai perbuatan jahat lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya puasa adalah perisai. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa maka jangan berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada seseorang menyerang atau mencaci, katakanlah “sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.”

Sesungguhnya ibadah Puasa Ramadhan bertujuan membentuk manusia beriman agar bertaqwa. Itulah pesan yang terdapat dalam, surat Al Baqarah ayat 183 yang menjadi landasan hukum wajibnya berpuasa bagi umat Islam pada setiap datangnya bulan Ramadhan.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb. Potensi ibadah puasa untuk mengantarkan kita menjadi manusia-manusia taqwa sangat mungkin dan terbuka luas. Karena Ramadhan adalah ”kampus rehabilitasi spritual” yang seyogyanya dapat disinergikan dengan upaya kita untuk melepaskan diri dari sikap-sikap hewani. 

Melalui ibadah Puasa di bulan Ramadhan, Allah SWT sebenarnya menguji sekaligus memberi pelajaran kejujuran yang luar biasa kepada manusia. Sebab, tidak ada kurikulum pendidikan di dunia yang mampu menandingi proses pembentukan kejujuran seperti Puasa Ramadhan. 

Melalui Puasa Ramadhan, manusia diajarkan untuk mampu menahan diri dari sesuatu yang bahkan halal. Ramadhan mendidik kita untuk menjadi pribadi muslim yang jujur. Orang berpuasa, tantangan terbesar adalah ketika kejujurannya dipaksa bertarung dengan segala bentuk keinginan yang kebanyakan pada bulan lainnya adalah halal. 

Akan tetapi, sepiring nasi dan segelas air yang halal, miliknya sendiri, tidak akan dimakannya ketika puasa karena ia harus jujur kepada Allah SWT, Malaikat dan Rasul-Nya. Ia tetap sabar menahan lapar dan haus hingga tiba waktu berbuka. Sepasang suami isteri, sabar menahan nafsu birahinya ketika siang hari karena itu adalah haram. Suami-isteri itu berjuang dengan penuh kejujuran kepada Illahi untuk tidak melakukan hubungan intim di siang hari karena tengah menjalankan ibadah puasa. Mereka berdua tetap tabah menunggu hingga waktu malam menjelma.

Jadi apabila setiap pribadi muslim, terpanggil untuk menunaikan ibadah puasa kerena cahaya iman, niscaya ia tidak hanya sekedar mendapatkan haus dan lapar dari puasanya itu, melainkan dia akan mendapatkan sebuah benteng kejujuran batin (disamping fadhilah-fadhilah yang lain) yang tidak ada bandingannya sebagaimana yang telah dijanjikan Allah SWT selama Ramadhan.

Ramadhan mampu mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang takut kepada Allah SWT di mana pun ia berada. Andai ia menjadi pejabat publik, maka ia akan dan tetap menjadi pejabat yang bersih dari kecurangan. Bila ia menjadi wakil rakyat, maka ia pun adalah sosok yang jujur dan amanah. Intinya, semua manusia mampu menjadi pribadi yang jujur.

Lalu bagaimana sesungguhnya pemahaman kita sebagai sosok muslim tentang defenisi puasa dan sikap kita kita terutama sebagai pemimpini?  Ternyata, pada praktiknya belum ada korelasi antara ke-Sholehan dan keberagamaan kita dengan pengingkaran terhadap amanah dan tanggungjawab yang diberikan rakyat, karena laku ibadah masih sebatas ”seremonial” atau ”ritual” semata!. Sholat rajin, korupsi jalan terus. Puasa oke, makan rakyat pe doi me oke. Haji tara barenti me zalim sama deng meki.

Oleh karena itu, Saya kira Ramadhan kali ini wajib kita jadikan sebagai momentum kebangkitan gerakan hati nurani di Maluku Utara. Bahwa Ramadhan tahun ini akan memperbaiki birokrasi kita untuk lebih jujur, sehingga mereka mampu menolak setiap bentuk praktik curang. Bahwa Ramadhan kali ini  mampu menumbuhkan budaya anti korupsi dalam tatanan masyarakat kita.

Ada satu riwayat dari Hasan bin Abul Hasan Bashri. Suatu hari ia melewati suatu kaum yang tengah tertawa. Melihat itu ia berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena perlombaan melakukan keta’atan bagi makhluk-Nya. Kemudian ada orang yang berlomba hingga menang dan ada pula yang tertinggal lalu kecewa. Tetapi yang sangat mengherankan ialah pemain yang tertawa di saat orang-orang berpacu meraih kemenangan.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa adalah amanah maka hendaklah salah seorang di antara kamu menjaga amanahnya.” (HR. Al-Kharaithi dan Sanadnya Hasan).

Selamat menunaikan Ibadah puasa, semoga seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT dengan menjauhkan kita dari segala perbuatan yang merusaknya. Amin(*).


Rabu, 01 Juni 2016

Tak Banyak Puisi di Bulan Juni

 







Ternyata sepanjang kepenyairan saya hanya ada segini Puisi yang saya tulis di bulan Juni.
Puisi-Puisi ini saya rangkum dari Enam Antologi Puisi dan Satu Manuskript yang sementara proses cetak, dalam kurun waktu 2001 - 2016. (bukunya seperti di banner)



1. Sajak Kelelawar

Ketika malam meluruhkan selendang
Akulah kelelawar menuju lautan
Menggarami nasib yang lama digerus mentari
Membasuh luka juga dahaga
Mencari ayat-ayat yang terkurung seperti mutiara

Lautan-Mu rerimbun kuasa yang mencatat ombak
Hempasan gelombang dan luruh badai
Dari mana perahu Nuh melajukan nasib
Dari mana Musa membelahnya dengan tongkat

Akulah perahu
Akulah buih
Kemanapun Kau lemparkan nasib
Kepada-Mu
Aku pasti kembali
  
                        Banda Aceh, 4 Juni 2007                   


2. Menanam Bara

Detak sepatumu kini tiada
Hanya kuntum bunga di atas meja
Tanpa aroma apalagi rasa
Baru kucuri dari pagar istana

Angin mati aura
Kau membalut luka
Menanam bara di lautan air mata

                                    Banda Aceh, 12 Juni 2007


3. Menuju Firdaus

Siapa mencari debu tak dapat emas
Siapa mencari syariat tak sampai makhrifat
Menuju kesana bekal kita hanya airmata
Maka berlayarlah di lautan-KU
Mata air menuju firdaus
Tempat dimana sungai-sungai mengalir madu
 
                        Banda Aceh, 14 Juni 2007


5. Kesepian Adalah Jalan Menuju

Menggigil aku menulis puisi
Kuasa-MU melingkar memanggil pulang

Kesepian adalah jalan menuju
Menapak tangga aroma-Mu pelangi
Berkapal sunyi lautan-Mu asin lentera

Menggigil aku menulis puisi
Di bawah kursi-Mu segala yang ada pasti kembali

                                    Banda Aceh, 15 Juni 2007
                                                         02.0 dini hari
 

6. Lelaki Penunggang Angin

Aku lelaki menunggang angin
Jangan tunggu di tikungan jalan
Kata-kata hanya suara
Para nelayan menabur jala

Ikan-ikan menunggu ajal
Kau menari diantara karang
Jika puisi membuat merana
Maafkan aku tak sempat membaca

            Banda Aceh, 19 Juni 2007


7. Sajak Lautan Sajadah

Lautan adalah hamparan sajadah menapaki makhrifat-MU
Di wajah kesadaran yang Kau titipkan lewat rinai hujan
Air mata meninggikan derajat beberapa doa

Malam adalah jerat antara surga dan neraka
Diantara huruf Kaf dan Nun yang menjelma gedung-gedung
Kebebalan serupa batu cadas yang luruh di tetesan wudhu

Pada penghabisan kesekian dari sujud di Kursimu
Alif Lam Mim bersekutu sebagai janji
Sebagai Adam yang mentahmidkan cahaya

Lautan adalah hamparan huruf-huruf mengeja ayat-MU
Seperti tangis yang menunggu di pintu rahim
Usai berikrar meniti nasib

                                    Banda Aceh, 20 Juni 2007


8. Dua Lelaki Pemabuk dan Sarang Lebah Madu

Hudan dan Saut saling bersahut, maut
Lelaki ikan dan dia yang bicara dengan Tuhan
Saling memberi dan berbagi kemabukan
Sebagai teks sebagai tubuh maupun busa, bir atau laut

Tapi dimanakah jantung lebah ratu itu
Benarkah dia menyimpan madu?

Bagi pelaut kemabukan adalah sahabat
Ketika ombak menghantam maupun perahu merapat
Entah di dermaga mana, adakah mereka mencari madu? barangkali
Bagi para pelaut kemabukan adalah bahagia dalam sejarah kehidupan
Lalu untuk apa mengunci diri apalagi di hadapan pembaca
Barangkali cuma sang lebah ratu yang tahu
Kenapa dia mengunci diri di tengah sarang-sarang madu

Mari tuan angkat gelasmu lagi, biar laut menggenangi seluruh kata
Agar kita termabuk-mabuk bicara dengan Tuhan

                                     Banda Aceh, 10 Juni 2008



9. Ternate Malam Hari dan Lelaki yang Sendiri

Ada bulan di bingkai jendela
Tersipu malu memandang bumi

Sayup suara gala dan dentang tifa
Meniupkan lagu masa dahulu

Nanar hatiku mendekap rindu
Pada kekasih di ujung waktu

Ternate yang sunyi di malam hari
Menikam lelaki dalam sendiri, ah nyeri

            Ternate, 6 Juni 2009
             *Gala=alat musik tiup seperti seruling

 
10. Semakin Gagu Menghidu Asin

Kepada malamlah salam kegelapan hendak dikirimkan
Sebagai tanda akan berpisah tanpa pelukan dan tanda mata
Lelaki yang lama meninggalkan pantai semakin gagu menghidu asin
Lalu alamat menjadi kelabu lantaran bahu terus merapuh

Kepada malamlah bintang-bintang melumatkan takdir
Tentang rindu yang lama tersingkir
Lalu awan menggunting cahaya ke dalam gelap bayangan malam
Tanpa matahati tiada harapan mengakrabkan jemari

Berlayar sendiri sama saja mengaramkan mimpi
Laju perahu tak lagi berarti entah kemana dan tak kembali

                        Ternate, 5 Juni 2009


12. Karena Pintu Kau Buka Dua

Mestinya hujan sore ini mampu membilas segala luka
Tetapi ngilu terus menusuk membawa bisa di ekor pari
Lebamnya wajah Ternate adalah lebam di dada lelaki
Airmata terus menjala hingga membanjir ke jalanan kota

Sesat  yang kau hela dengan khianat  antara kita
Begitu terbaca di gerak suara, dusta kau tuang ke dalam piala
Lalu mengabur segala asa juga akad yang lama kujaga

Letihku merawat rindu adalah liur duniawi pada mulutmu
Melelehkan dendam birahimu hingga detik berpisah waktu
Dalam kemabukan mencari dunia, menari-nari di antara gulita
Tetes-tetes dosa tak mampu kuseka karena pintu kau buka dua

                        Ternate, 17 Juni 2009


13. Vina Dad Mon Para Moya*

Kubaca jejak kakimu di bebatuan kota Ternate
Senyuman yang dulu kau sematkan di tepi Danau Tolire
Masih tersimpan di reribun daunan pala
Lalu angin pantai Sulamadaha memapah kita
Pada harum dekapan mata, masihkah ada rasa?

Malam ini ingin kuraba wajahmu pada pasi bulan Juni
Tapi jejak yang kau tinggal telah menghitam di Batu Angus
Sebagai prasasti dan tanda kenang menjadi kelam

Rindu yang  tersia telah melahar di dada Gamalama
Segera setelah ini hanya asin laut yang menjadikannya mati
Selamat jalan kekasih hati, vina dad mon para moya

                        Ternate, 18  Juni 2009
                         * Bahasa Daerah Sula Kepulauan
                         * vina dad mon para moya= Perempuan bukan engkau saja

 
14. Pada Suatu Jum’at

Di batas sebuah takbir
Dari sujud paling akhir
Desahku begitu fakir

            Ternate, 19 Juni 2009


15. Malam di Teras Masjid

Sebaris doa
Linang air mata
Aku menghampa
Memujamu sepenuh nyawa

            Ternate, 26 Juni 2009


16. Tiada Alamat Pulang

Aku mencarimu diantara debu dan deru kendaraan kota
Kucari dirimu di taman-taman sepi di pantai-pantai berpasir
Di malam-malam panjang dan siang yang membakar
Senja tak jua mempertemukan kita seperti dahulu di tanah Fansuri
Juga di kota yang terakhir kau singgahi. Aku disini

Malam kelam, gerhana terpanjang
Terlampau lama kamu menyimpan dendam

Andai amarah tak terlanjur menyala, bahtera ini tak mungkin karam

Aku mencarimu di laut-laut sepi, di pantai-pantai sunyi
Ikan dan udang tak menghampiri. burung-burung memilih pergi
Bahkan disini, di kota yang lama kutinggal pergi

Malam kelam, gerhana terpanjang
Harapanku hilang, tiada alamat kembali pulang
 
                        Makassar, 15 Juni 2011



17. Di Tubuhmu Rindu

angin malam suaraku Daud
lagukan padanya nyanyian rindu
supaya merenung supaya melamun

air mengalir Adam tubuhku
diam menghadap Yusuf wajahku
datanglah cepat dekaplah lekas  

harimau birahi datang melamun
dialah aku ya latif,  akulah dia ya latif
ular berbisa datang menyimak
dialah aku ya latif,  dia dan aku ya latif

alayka mahabbatan minnii walitushna’a

hanya padaku: o… hanya padaku
kasih sayang datang  melimpah
serupa Adam kepada Hawa
serupa Yusuf kepada Zulaikha
suaraku Daud di tubuhmu rindu
            
            Ternate, 26 Juni 2011


18. Kepada Perempuan yang Menyimpan Api

bila masih kau simpan namaku, naiklah ke atas perahu
ini waktunya bila ingin pulang ke laut
rumah dimana batubatu bersemayamkan rindu
biar nyala api dari percikan hutan di musim kering itu
tak sampai hangus membakar dirimu

bila masih kau simpan namaku  di belukar rindu
datanglah berserta sedumu, sebab laut adalah rumahku
tempat mengubur segala pilu, alamat pulang segala yang tabu
dan bila masih ada sedikit waktu
ijinkan kupetik mimpi tentangmu sebelum maut
bila nanti kayuhku terlanjut berhenti
            
                        Ternate, 12  Juni 2013


19. Karma

bulan separuh di perutmu
ketika malam datang menghantam
kini menjelma helai mayang
bertunas separuh jalang
jadikan kenangan serupa duri pandan
menyekat bagai paku

kubunuh kau bila rindu ini tak mengakar padamu
umpatmu dengan nafas setajam peluru

berangkatlah selagi nafas masih mungkin
ucapmu ketika itu di ujung senja paling abu
lalu aku berbegas melepas bahu
sembilan arah angin segera aku gagahi
tetapi sepi meremas mimpi-mimpi

kau tahu anakmu telah melaju
bersisian perahu, amarahnya menderu
luka betina yang kutinggalkan separuh purnama
di perutmu, kini terlanjur api. 

aku tahu engkau mengirimnya untuk menguburku
seperti janjimu ketika itu di ujung senja paling abu
 
            Ternate, 16 Juni 2013