Senin, 03 April 2017

Alamat Pulang



beta datang ke nona pung kampung
beta rebut beta pung cinta
beta polo beta pung sayang

di malam hangat katong berjumpa
beta pegang nona pung tangan
katong berjanji di dalam pelukan
hidup bersama deng penuh cinta

bulan memancar
asmara melancar
telah sampai ke alamat pulang
taman terakhir yang beta sayang

    Negara Ratu, 5 Maret 2017


Senin, 06 Maret 2017

Puisi Cinta Kita



selalu saja ada senyum yang lebih tulus
setiap kali perjumpaan dan kita sama menghapus awan
seperti juga tetes embun yang menjengukmu
setiap pagi di kebun bapak dalam harap
yang meski kadang menyandera. kita tak putus berharap cinta
sebab kita tahu setelah embun dan gerimis selalu ada matahari

selalu saja ada rindu yang lebih dalam setelah perjumpaan
yang membawa kita lebih mesra ke dalam pelukan
dengan debar kasih sayang selembut ombak membelai pantai
setiap kali engkau memintaku untuk tinggal lebih lama
agar kita semakin akrab merapal doa-doa di penghujung senja
juga subuh yang kadang datang begitu menggegas. aku tahu
kita sama ingin menuju matahari merawat mata hati

selalu saja ada cinta yang lebih dalam setelah badai menghempas
setiap kali puting beliung datang meranggas di musim yang cemas
aku tahu. kita semakin mahir menyembuhkan luka
semakin piawai melerai duka lara. bagai para pelaut
melerai layar dan kemudi dari hantaman angin barat
meski ombak berlipat-lipat menahan kita di atas dermaga
ke tepian semula perahu cinta tiada lelah
melabuhkan asmara. cinta kita

            Negara Ratu, 4 Maret 2017



Minggu, 05 Maret 2017

Bayangan Dusta



berhari lalu engkau mengirimkan sebuah puisi
tentang lelaki yang kian lincah meracik kopi
aku tahu. ia kini lihai meraba pekat tubuhmu yang masai
dalam gemericik berahi yang menganak sungai
hingga tak lagi menyisakan tanda bagi diriku. untuk berandai

berhari lalu engkau menulis puisi tentang mimpi dan rasa rindu
tetapi ia yang di luar pintu tak henti jua kau ajak melewatkan waktu
mengacak-ngacak dapur, ranjang tidur di ruas-ruas tubuhmu
lalu jejakku kian terhapus dari hati dan degup jantungmu
bagai piatu menyesali nasib di ujung hari. dustamu itu

berhari lalu engkau menulis puisi tentang bayang-bayang
berharap mimpimu mengangkasa bagai layang-layang
aku tahu. ia kini menanak di rahimmu berharap kasih-sayang
dalam gemuruh berahi. bagai amuk angin timur menggepur karang
menyisakan bisa ular di semak tubuhmu yang kian meradang

berhari lalu engkau mengirimkan sebuah puisi penanda sayang
tentang kopi dan rasa rindu juga asmara menjelang petang
tetapi cangkir dan ruas bibirmu terlanjur penuh noda tualang
pahitnya khianat itu menikam jantungku hingga hingga ke tulang

            Ternate, 1 Maret 2017






Minggu, 19 Februari 2017

Salam Paradosa


di dadamu, pernah rahasia kita isyaratkan
sebelum kapal-kapal kau undang untuk berlabuh
di dermaga. para lelaki berkerumun menyusu
pada puting dan liang rahimmu entah yang ke berapa
lalu aku semakin galau menerka cuaca tak terbaca

siang-malam kapal-kapal berlayar mendekat
menambatkan harap. merapatkan hasrat
di dermaga. warna langit dan laut luas
seperti juga biru matamu menawarkan sesat
sedang aku semakin kau hapus di pelupuk kenang
menjadi bayang-bayang pada jarak yang kian membentang

di bilik-bilik gelap, rahasia itu terus kau susun
musim dan kejadian; antara mimpi-mimpi tandus
benteng-benteng menidurkan sejarah
sepanjang angin menghela riak.sedalam nafsu hendak kau teguk
serapuh gunung di dadamu yang tak lagi tegak

di dadamu, dosa-dosa mengapung bagai buih
jejak tangan dan kepala bersilangan tiada kekal
berebut dayung untuk mengayuh di tubuhmu
pada ombak kesekian yang terus melemparkan gelisah
berharap ada yang menetap dari setiap peristiwa
dalam kegelapan hasrat di setiap gerak dan desah nafas
barangkali ada yang bersetia menampung airmata si buyung

namun seperti yang kau tahu. para pelaut tiada berumah di atas dermaga
ketika musim telah datang berganti rupa. satu demi satu kapal-kapal
akan berlayar menuju entah. mencari teluk dan dermaga pemuas hasrat
lalu engkau terdiam sendiri di batas pantai yang kusut masai
menghitung jumlah kapal dan musim-musim yang terlanjur berangkat
memungut sisa umur yang kian berkarat. barangkali juga sekarat

            Ternate, 14 Februari 2017







.

Minggu, 22 Januari 2017

Telegram Dari Tanjung Sopi



jika kau tiba di rumah kita
dan aku telah tiada
itu berarti waktu kita telah habis
ranjang yang sunyi lemari yang sepi
segala telah menjadi basi
kucing-kucing pun telah mati

dan di dinding rumah. pigura-pigura foto
hanya berisi gambar kebohongan
seakan kita memelihara ular yang mendesis
dari dari balik laci dan tungku kosong
dimana kita pernah menanak harapan dan juga mimpi
lalu menatanya di atas meja bagai santapan dari surga

ya di rumah mungil berlantai dua itu
sejarah dan nafas dua tubuh pernah tersaji
bagai pangeran dan bidadari

meski berulangkali tuba kau tuangkan
ke cangkir kopi juga piring makan
juga gelas kehidupan yang kini pecah berderai

meski aku selalu tabah menelan bisa ular laut
seteguk demi seteguk dari manis bibirmu
hingga hatiku biru membeku

jika kau tiba di rumah kita
dan aku telah tiada
maka bawa saja segala yang tersisa
sebagaimana kau bawa seluruh kasih sayang
yang pernah kita punyai
sebab aku tak pernah cukup. bagimu tak biasa satu

            Morotai, 22 Januari 2017